Ulang Tahun Manusia

August 7, 2008

Aku bukan manusia. Bentuk tubuhku memang seperti manusia. Aku juga bicara menggunakan mulut dan aku memiliki imajinasi seperti manusia. Tapi beruntunglah aku, karena aku bukan manusia.

Aku terlahir dari seorang perempuan yang memiliki peranakan layaknya perempuan-perempuan di seluruh dunia yang mampu beranak-pinak kapan pun sel telur yang mereka miliki dibuahi oleh kecebong berbuntut panjang (bahkan sangat panjang untuk ukuran tubuh mereka yang bukan main kecilnya). Aku keluar dengan menyobek vagina perempuan yang kemudian disebut ibuku. Rasanya sakit katanya, sangat sakit hingga menimbulkan trauma yang dalam ketika diingat. Ditahun-tahun berikut, hal ini menjadi senjata ampuh untuk meluluhkanku. Ketika ia berkata, kau telah kupelihara dalam perutku dan telah kupertaruhkan nyawaku untuk melahirkanmu! Baiklah, aku memang telah membahayakan nyawanya, tapi bukankah ia sendiri yang telah memilih untuk memiliku ketika ia membiarkan laki-laki yang menjadi suaminya mengeluarkan sperma dalam perutnya? Bukankah itu cukup untuk menyatakan bahwa itu bukan pilihanku, melainkan pilihannya? Tapi baiklah, bagaimanapun aku telah membahayakan nyawanya.

Tapi aku berbeda. Aku bukan manusia. Karena aku tidak pernah berulangtahun. Berbeda dengan teman-temanku yang semua ada manusia, mereka semua merayakan tanggal lahirnya itu setiap tahun. Ulang tahun, katanya. Tapi aku tidak. Aku tidak pernah ulang tahun, dan aku merasa beruntung karenanya.

Setiap ulang tahun, teman-temanku selalu menjadi berbeda. Karena setiap ulang tahun, semua manusia itu menjadi berharap bahwa hari itu menjadi lebih baik dari biasanya. Mereka sangat mengharapkan kejutan-kejutan dari manusia-manusia lain yang mereka harapkan. Salah satu temanku berharap memperoleh hari menyenangkan dari orangtuanya, yang satu lagi sangat berharap ‘dikejutkan’ oleh pacarnya yang tiba-tiba muncul batang hidungnya tanpa menginformasikan lebih dulu, yang lainnya lagi berharap sahabatnya jaman dahulu tiba-tiba mengirim pesan dan membuktikan bahwa mereka masih seperti sahabat. Bodoh, menurutku. Harapan-harapan itu muncul karena mereka berulangtahun. Dan setelah malam hari, menjelang habisnya detik-detik hari jadinya itu, mereka menjadi kecewa karena harapannya tidak terpenuhi.

Beruntunglah aku yang bukan manusia ini karena aku tidak pernah menjanjikan kesenangan itu kepada diriku sendiri. Aku selalu berjalah berbasiskan kenyataan dan hukum-hukumnya yang adil. Kekuatanku adalah teori-teori kemungkinan yang jelas perhitungannya. Alasannya cuma satu, karena aku tidak pernah berulang tahun. Aku tidak tahu kapan harus mengimi-imingi diriku dengan harapan-harapan yang sebagian besar bergantung kepada orang lain itu.

Aku berbeda dengan manusia. Aku sangat baik dan sayang kepada diriku sendiri. Aku tidak pernah menjahatinya dengan membiarkannya berharap dan kemudian mengecewakannya ketika harapan itu ternyata tidak terjadi. Manusia hanya mampu berjanji. Janji kosong, kata mereka.

Sesama manusia biasanya saling menagih traktir saat yang lain ulang tahun. Entah apa yang dimaksud ‘traktir’ itu. Yang aku lihat hanya pergi makan bersama, ngobrol seperti biasa, dan kemudian pulang tanpa mengeluarkan uang masing-masing. Semua dibayar oleh manusia yang merayakan ulang tahun, yang pada saat makan biasanya duduk di tengah dengan dandanan yang berbeda dari hari biasa. Oh, mungkin itu yang mereka sebut dengan ‘traktir’ atau ‘makan-makan’. Keistimewaan lainnya, rasanya tidak kutemui. Sebenarnya itu adalah makan seperti biasa. Buat aku, tidak perlu ulang tahun untuk membayari makan temanku, dan tidak perlu ada yang ulang tahun untuk sesekali makan gratis. Apa uang hanya tiba-tiba banyak pada saat ulang tahun? Atau apakah harus selalu sedia uang banyak pada saat ulang tahun? Atau ini hanya azas manfaat yang sedang berkibar? Azas manfaat yang sedikit tahu diri karena hanya dilakukan setahun sekali, tidak seperti anjing yang setiap harinya berebut makanan?? Beruntunglah aku yang bukan manusia karena aku tidak pernah berulangtahun. Dengan begitu aku tidak menjadi seperti orang rakus yang tidak pernah makan ketika temanku ulang tahun, juga tidak perlu memaksakan diriku untuk menjadi pusat perhatian dengan memberi penganan kepada teman-temanku. Aku selalu menikmati makananku, kapan saja. Memang tidak semua hal aku mengerti tentang manusia, karena aku bukan manusia.

Salah satu hal lagi yang biasa dilakukan pada saat ulang tahun adalah memberi hadiah. Ini bisa berupa apa saja, tergantung kemampuan finansial atau seberapa besar cinta yang dimiliki untuk sang manusia yang sedang merayakannya. Bila tidak sesuai dengan keinginan, hari mendadak menjadi dingin dan penuh dengan caci dalam hati. Sedangkan bila ditanya, jawabannya hanya berkisar ‘terserah’ atau ‘apa saja’. Entah karena malu atau karena begitu cintanya manusia pada kejutan. Sedangkan aku, aku terbiasa menghadiahi diriku sendiri walaupun tidak pernah berulang tahun. Memang aku harus membayar, tapi aku lebih puas karena aku memberi apa yang benar-benar aku inginkan. Aku tidak perlu menimbun hal-hal besar yang aku sendiri tidak butuhkan. Dengan begitu aku tidak perlu pura-pura senang atau merasa berhutang. Lagipula, bukankah apa yang didapat sebanding dengan usaha? Setahuku, banyak hadiah yang diperoleh tanpa mengeluarkan apa-apa, dan hasilnya hadiah itu sama berartinya dengan sampah. Tapi tidak semua, banyak sahabatku yang merasa puas dengan hadiah ulang tahunnya. Itu semata-mata karena mereka menabur selama setahun dengan cinta dan keberadaan dirinya kepada sesama manusia. Senang sekali aku melihat kepuasan itu di wajah sahabat-sahabatku, walaupun aku bukan manusia.

Pernah aku menemani sahabatku berulangtahun. Hanya berdua waktu itu. Bukannya ia tidak memiliki teman lain, tapi lantaran suasananya tidak enak katanya. Saat itu ia berbicara panjang lebar (mungkin karena pengaruh alkohol yang mulai tertimbun dalam ususnya) tentang yang ia rasakan pada saat berulang tahun. Ulang tahun sama seperti seks, mulainya sambil menenggak sisa cairan di gelasnya dan mengisinya kembali. Sebelum seks itu dimulai, seluruh tubuh terasa hangat menggebu, tidak sabar untuk segera merasakan sensasinya. Proses berjalan, gerakan demi gerakan berganti untuk mengejar orgasme. Kerjasama sesama manusia harus terjalin baik. Pada saat yang satu memimpin, yang lain mengikuti, demikian sebaliknya. Peluh mulai keluar, menandakan batas energi yang dimiliki. Tidak lama, orgasme (biasanya hanya salah satu dari manusia itu yang dapat menelannya) menampilkan wujudnya. Setelah itu? Apa? Rasa menggebu yang sebelumnya begitu berkuasa tidak ubahnya seperti gusi tidak bergigi. Hidangan menggairahkan yang sama tidak mampu lagi meningkatkan hasratnya. Semua mendadak datar, hambar, tidak berarti. Sensasinya ternyata hanya seperti itu. Lalu apa? Ia bertanya dengan mata yang berusaha diangkatnya. Entahlah, jawabku singkat. Walau aku menyukainya, tapi aku bukan manusia, lanjutku lagi.

Lalu, bagaimana selanjutnya? Apakah ulang tahun akan selalu seperti ini? Aku tidak tahu, toh aku bukan manusia. Biarlah mereka sendiri yang menentukan hari-harinya. Lalu, bila kemudian aku menjadi manusia dan mengalami ulang tahun, apa yang aku minta? Lagi-lagi, aku tidak tahu, tapi mungkin aku akan berdoa untuk tidak menjadi manusia di tahun berikutnya, agar aku tidak perlu dibebankan sedemikian berat oleh diriku sendiri karena berulangtahun. Biarkan diriku makan dan senang setiap harinya, dan menghadiahkan diriku sendiri dengan hadiah berarti yang diperoleh dengan harga dan usaha. Kata manusia, aku tidak menghargai hidup karena tidak menghargai ulang tahun. Entahlah, aku memang bukan manusia bukan?

Kalau kau juga bukan manusia, mari berunding denganku…

Alasan

April 22, 2008

“Manusia punya kemampuan luar biasa untuk beradaptasi. Terkadang sangat luar biasa hingga mengagetkan diri sendiri, tidak menyangka kemampuan itu begitu hebat.

Bayangkan ada seseorang yang bisa makan 1kg cabe rawit tanpa kepedasan, dan ada orang yang sampai menangis karena cabe mie instan. Semua masalah kebiasaan, bukan kemampuan yang dibawa dari lahir. Bila si pembenci cabe itu diberi makanan pedas selama beberapa waktu, ia akan beradaptasi. Lidah dan pencernaannya akan menyesuaikan diri.

Begitu juga dengan pola kerja. Seorang pekerja keras akan menjadi pemalas ditengah lingkungan yang malas. Atau seorang manusia jujur yang mulai korupsi dalam lingkungan koruptor. Bukan berdasarkan mental atau kemauan, tapi karena memang manusia akan menyesuaikan diri tanpa perlu diperintah.

Kamu ingat waktu awal kita menikah dulu? Aku bukan orang yang bisa bangun pagi, namun saat itu aku menuntut diriku sendiri untuk menyiapkan sarapan setiap pagi. Dari keterpaksaan, lama-kelamaan aku bisa bangun pagi dengan sendirinya. Bukan karena aku tidak lagi suka tidur, tapi karena tubuhku mampu mengikuti pola yang ada.

Sama juga seperti waktu kamu tidak bisa menjemput dan mengantarku ke kantor. Harus menggunakan angkot ternyata bukan menjadi masalah setelah beberapa waktu. Malah kemudian angkot bisa memberi kesenangan tersendiri. Itu bukan karena angkot lebih nyaman, tapi semata-mata karena aku beradaptasi.

Segala sesuatu yang dipupuk dengan rutin akan berkembang. Menjadi bagus atau buruk? Tergantung bibit dan perawatan yang didapat. Bibitnya adalah aku, dan perawatannya adalah lingkunganku. Termasuk kamu, sayang. Setujukah kamu?”

“Ya, aku setuju. Itu juga yang aku rasakan waktu pertama kali dipindahkan ke tempat kerjaku yang baru.”

“Ya, persis! Itulah yang aku rasakan.”

“Kamu pindah kerja??”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Aku selingkuh.”

Bayi atau …?

April 5, 2008

Mataku terpejam erat. Kakiku mulai berkeringat. Perlahan kubuka sebelah mataku, tetapi masih seperti tadi. Gelap gulita. Udara dingin terasa panas dan kedap.

Sesaat kemudian, suara itu terdengar lagi. Bayi yang menangis di tengah kegelapan seakan-akan mencari udara dalam plastik bening yang terikat rapat. Bayi dalam kehampaan udara. Sungguh tersiksa tanpa ada yang dapat dilakukan. Ia hanya dapat meronta sebisanya. Tangisannya terdengar seperti nafas yang tercekat.

Beberapa saat kemudian, suaranya meredam. Bayi itu lemas. Ujung jari-jarinya yang mungil mulai membiru. Kaku. Suaranya pun hilang perlahan-lahan. Plastik yang tadinya kembang-kempis akhirnya diam. Hanya ada embun-embun sisa perjuangan sang bayi.

Aku berjingkat menghampiri di tengah kegelapan. Tapi bayi itu tidak ada disana. Dia hilang. Nafasku tertahan. Lalu tanpa terduga, tangisan itu terdengar lagi. Kali ini di belakangku. Dekat. Dekat sekali. Perlahan terasa hembusan hangat di kakiku. Seperti nafas seorang bayi. Mata kakiku hangat. Lalu tiba-tiba…

 

 

**Rrrrrrrrggggghhhhhhhh…….!! Kucing brengseeeeeekk!!! Kawin di balcony depan kamar gw jam 3 pagi! Why don’t u bring ur ass away and get a room!?? Dasar kucing! Ga punya aturan!! Sh*t!!

Masing-Masing

Banyak orang menyaksikan pembangunan sebuah gedung.

Orang I        : "Saya mau ke lantai 9."

Penjaga       : "Tidak bisa, gedung ini baru jadi dua lantai."

Orang I        : "Tidak masalah. Saya bawa ‘kemampuan’. Saya akan lanjutkan pembangunan sampai ke lantai 9."

Penjaga       : "Ok. Silahkan."

 

Orang II        : "Saya mau ke lantai 9."

Penjaga        : "Tidak bisa, gedung ini baru jadi dua lantai."

Orang II       : "Tenang saja, saya bawa ‘uang’. Saya akan bayar orang lebih banyak untuk melanjutkan pembangunan sampai lantai 9."

Penjaga        : "Ok. Silahkan."

 

Orang III       : "Saya mau ke lantai 9."

Penjaga        : "Tidak bisa, gedung ini baru jadi dua lantai."

Orang III       : "Hmm… Saya punya ’strategi’. Saya akan ajarkan pekerja untuk membangun dengan efektif sampai ke lantai 9."

Penjaga        : "Ok. Silahkan."

 

Orang IV       : "Saya mau ke lantai 9."

Penjaga        : "Tidak bisa, gedung ini baru jadi dua lantai."

Orang IV       : "Oo… baik. Saya punya banyak ‘waktu’. Saya akan tunggu deh, sampai pembangunan mencapai lantai 9."

Penjaga        : "Ok. Silahkan."

 

Ini adalah empat tipe orang yang mempunyai keinginan untuk mencapai lantai 9, dan benar-benar akan menginjakkan kakinya di lantai 9. Setelah itu, datang satu orang lagi…

Orang V        : "Saya mau ke lantai 9 juga dong!"

Penjaga        : "Tidak bisa, gedung ini baru jadi dua lantai."

Orang V        : "Tapi saya mau kesana!!"

Penjaga        : "Baik. Anda bawa apa?"

Orang V        : "Mmm… Saya tidak bawa apa-apa…"

Penjaga        : "Ya tidak bisa kalau gitu."

Orang V        : "Tapi saya cantik!!"

Penjaga        : (so what!??) "Tapi cantik bukan usaha…"

Orang V        : "Tapi saya cantiiiiiikk!!!

Penjaga        : (Hhhh…….It is, fortunately!!) "Yaa, kalau begitu Anda tinggal mencari orang yang bawa kemampuan, atau uang, atau strategi, yang menyukai kecantikan Anda. Kemudian baru Anda bisa menukarnya sampai lantai 9 itu selesai.

Melihat tipe orang ke-lima, akankah ia menginjakkan kakinya di lantai 9? Ya. Tapi lama. Atau bahkan lebih cepat? Tergantung. Maksudnya benar-benar… ter-GANTUNG. Itu kalau cantik, berarti takdirnya masih bagus. Lahh, kalau jelek??

 

**Dan satu lagi, lantai 9 ini ternyata cuma berlaku untuk yang menyadari potensinya… masing-masing.

Memoria

February 24, 2008

Malam itu, Ning melonjak dari tidurnya. Bocah berusia 4 tahun itu mimpi buruk. Ia bermimpi melihat seorang laki-laki berbadan besar yang dibungkus kain hitam. Laki-laki itu terbungkus rapat sekali sampai tidak bisa bergerak. Tiba-tiba kain itu disobek dari dalam dengan pisau besar. Pisau itu berkarat, tidak tajam seperti yang sering dilihatnya di dapur. Kain pun sobek. Bukan dengan potongan halus, tapi tercabik. Seratnya hancur. Laki-laki itu keluar dan segera menerjang ibunya. Ibunya Ning. Ning bersembunyi. Dia ingin melindungi ibunya, tapi ia malah bersembunyi. Ning benci karena ia pengecut. Ning tidak suka mimpi. Ia segera membuka pintu kamar. Di luar kamar, ia melihat ibunya duduk di meja makan. Saat ingin menghampiri, ia melihat sosok laki-laki itu sedang mengambil ancang-ancang ingin menerjang ibunya. Ibunya Ning. Ning segera bersembunyi. Ia melihat ibunya menangis, tapi ia tetap bersembunyi. Bukan karena takut. Bukan. Tapi karena laki-laki itu berubah. Berubah menjadi ayah. Ayahnya Ning.

Siang itu panas sekali. Ning pulang sekolah dengan keringat dan wajah merah terjemur matahari. Bocah berusia 7 tahun itu tetap terlihat bersemangat. Di depan rumah, Ning melihat sepatu. Sepatu laki-laki. Ning menaruh tas di ruang tamu, kemudian berjalan ke kamar ibunya. Dari depan kamar Ning mendengar suara laki-laki. Suara itu terdengar marah, lalu diam. Lama. Ning menunggu, namun suara itu tidak terdengar lagi. Kemudian terdengar suara perempuan menangis. Suara ibunya. Ibunya Ning. Ning membuka pintu perlahan. Pintu terbuka sedikit. Sedikit sekali. Ia melihat ibunya sedang mencabik bajunya. Daster merah jambu itu dicabik sambil menangis. Ia tidak melihat laki-laki yang bersama ibunya. Ning kembali menutup pintu dengan air mata mengalir. Ning tidak sedih, tidak pula ingin menangis. Namun air mata itu mengalir. Ning pergi ke kamarnya dan bersembunyi. Ia menutup tirai jendela dan jongkok di kegelapan. Kedua tangannya melipat. Tanpa sadar, kuku-kukunya menancap pada lengan kecilnya. Seragam putihnya perlahan menjadi merah. Darah segar meresap cepat. Kemudian terdengar pintu kamar ibunya dibuka. Ning mengintip. Keluar seorang laki-laki berbadan besar. Ning kembali bersembunyi. Bukan karena takut. Tapi karena tiba-tiba Ning merasa ingin menancapkan kembali kuku-kukunya sampai berdarah lagi. Karena laki-laki itu ternyata ayahnya. Ayahnya Ning.

Sore itu Ning di dapur. Bocah berusia 10 tahun itu membantu ibunya memasak. Sambel goreng ati katanya. Setelah memasak, ibunya mandi. Malam itu ibu terlihat rapi. Rambut sebahunya dijepit. Ibu juga menggunakan lipstick merah muda. Lalu ibu duduk di meja makan. Ibu tidak makan, ia hanya duduk menghadap makanan. Ibu duduk lama sekali. Ning melihat ibunya dari kamar. Sampai lewat tengah malam, akhirnya pembantu rumah tangga Ning menghampiri ibu.
“Istirahat aja di kamar, Nya Muda..”, katanya lembut. Tapi ibu tidak menjawan. Tubuhnya kaku seperti kursi dan meja makan. Saat tangannya dipegang, tiba-tiba tubuhnya melemas. Ibu tergolek di meja makan. Pembantu rumah tangga itu panik dan segera memanggil temannya. Ibu digotong. Ning bersembunyi. Ning ingin membantu, tapi malah bersembunyi. Air mata Ning mengalir. Entah karena sedih, atau sakit. Ning mencakar-cakar kakinya dengan sapu lidi. Di kepalanya terlihat seraut wajah. Wajah yang juga selalu ditunggu ibunya. Wajah itu seperti wajah ayah. Ayahnya Ning. Mirip sekali.

Pagi itu Ning terlihat cantik sekali. Perempuan berusia 25 tahun itu akan melangsungkan pernikahan. Semua telah siap. Ruangan telah selesai dirias seperti dirinya. Ning membuka sedikit ruang riasnya untuk mengintip keluar. Terlihat calon suaminya berdiri disana. Tiba-tiba ia melonjak ketakutan. Kunci mobil diatas meja seakan melompat ke tangannya. Ning menangkap dengan cepat. Ia menyelinap ke mobil seperti orang kesetanan. Orang-orang terkejut melihat wajah Ning yang berkeringat. Ning bersiap menancap gas. Tiba-tiba ia teringat saat dirinya terseret di aspal karena menahan mobil ibunya. Waktu itu ibu kalap dan kabur. Niing benci tubuh kecilnya yang hanya membuatnya terseret-seret. Ning semakin gusar ketika melihat calon suaminya berlari menghampiri. Ia segera menancap gas. Sesaat kemudian calon suaminya tergeletak. Orang-orang terlihat rusuh. Namun Ning tersenyum puas ketika melihat wajah itu. Wajah yang terlihat seperti wajah ayahnya. Ayahnya Ning. Sebelum kemudian histeris ketika melihat wajah itu berubah menjadi calon suaminya.

2006 © Niczide - Monica Anastasia | This weblog using : Blogsome™ and Wordpress™

All Right Reserved. Design by reeworkz | contact reeworkz

Please, for you convinience use Firefox 2.0™ | XHTML valid | CSS valid