Poor Kartini…
April 21, 2007Hampir semua acara TV Nasional hari ini (kemarin maksudnya) turut memperingati Hari Raya Kartini. Termasuk acara tentang gosip selebriti yang bicara soal perempuan, hak, perjuangan, dan pengorbanannya.
Salah satunya menyorot Tamara Blesinzky (gimana si nulisnya??) dalam ‘perjuangan’nya bertemu anaknya, Rassya. Sebuah pernyataan mengiringi pemberitaan tentang hal tersebut,
"Mungkin Tamara mewakili perempuan Indonesia yang belum merasakan perjuangan Kartini untuk mendapatkan haknya dalam mencurahkan kasih sayang untuk anaknya."
What??!
Perjuangan seorang Kartini yang salah satunya bicara soal persamaan gender disamakan dengan nasib seorang seleb yang tidak menduga resikonya ketika mengambil keputusan hidup??!!! Herannya komentar seperti ini diucapkan hampir seluruh acara gosip seharian ini. Kesepakatan bersama yang diakui oleh hampir seluruh penduduk Indonesia (gosip bo! Siapa yang ga ngikutin beritanya??) tentang perjuangan Kartini ternyata seperti itu. Pemerintahan Orde Baru ternyata benar-benar berhasil memanipulasi sebuah perjuangan seorang pahlawan, yang kebetulan perempuan. Perjuangan yang bertujuan mengubah mental ‘budak’ manusia menjadi seorang pemimpin yang mengetahui dengan jelas posisi, hak, dan kewajibannya, ternyata hanya diartikan sebagai perjuangan perempuan untuk keluar dari dapur dan masuk ke sebuah lembaga pendidikan. (yang kemudian menghasilkan sebuah kenyataan menyedihkan yang menjadikan perempuan tidak mau masuk dapur dan melayani keluarga dengan alasan ‘emansipasi’. Edan!!) Herannya lagi, banyak perempuan Indonesia justru setuju dengan ‘perjuangan keluar dapur’ ini.
Perjuangan Kartini jadi mubazir bila melihat hasil berupa perempuan yang berani memberontak untuk menuntut hak-nya. Salah satu contohnya adalah seorang ibu yang merasa dicurangi karena tidak dapat bertemu dan ‘mencurahkan kasih sayang’ untuk anaknya. Setelah lupa akan kewajiban, seorang ibu kaya dapat membeli hak-nya melalui pengacara ternama. Ketika tujuannya tercapai, dengan bangga ia menyamai diri dengan Kartini yang berhasil memperjuangkan hak-nya.
Akhirnya terjawab sudah mengapa Indonesia tidak pernah mengalami kebebasan gender. Emansipasi pun hanya sebuah istilah asing yang entah apa artinya, karena memang terapannya tidak pernah ditemukan di Indonesia. Salah satu arti sederhana dari emansipasi adalah seimbangnya hak dan kewajiban, bukan berusaha sama dengan laki-laki. (Dari bentuk fisik dan kondisi biologis lain yang berbeda, masa perempuan pintar tidak bisa membedakan perbedaan apa yang harus ada??)
Siapa lagi yang mampu menindas makhluk terkuat (perempuan) di muka bumi ini selain dirinya sendiri??
So…just enjoy the shit!!
Comments »
The URI to TrackBack this entry is: http://niczide.blogsome.com/2007/04/21/35/trackback/
No comments yet.
RSS feed for comments on this post.
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>