‘Selamat Jalan Pak Harto’, Kata Metro TV
January 28, 2008Namanya Soeharto. Bapak Pembangunan itu dipanggil Bapak Soeharto atau Presiden Soeharto. Beberapa masyarakat bahkan ada yang memanggilnya Bapak Besar karena rasa kagumnya. Luar biasa memang untuk seorang manusia biasa berlatar belakang anak petani yang tidak sanggup sekolah, untuk memimpin sebuah bangsa besar selama 32 tahun. Tidak hanya memimpin seperti presiden saat ini, Bapak Soeharto berhasil menaruh bangsa ini pada kondisi stabil. Datar. Bahkan permukaannya naik sedikit-sedikit. Tapi tidak miring. Semua tetap datar. Gerakannya halus perlahan, tidak mengagetkan. Kestabilan membuat masyarakat merasa aman…dan kagum. Apa saja yang beliau pakai untuk mengganjal agar permukaannya tetap stabil? Entah. Ada yang bilang korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Beliau berduka. Istri tercintanya meninggal pada tahun 1996. Ibu Tien meninggalkan negaranya. Ya benar, ia kan memang seorang ibu negara. Bapak Soeharto menangis. Katanya beliau kehilangan teman diskusi, pelengkap seorang Soeharto. Segala gerak-geriknya tidak selalu sempurna, dan Ibu Tien selalu mampu mengisi ruang-ruang kosongnya. Ucapannya tidak selalu terdengar, dan Ibu Tien mampu mengeraskan suaranya disaat-saat suaminya melemah. Senyum beliau ada kalanya harus mengeras, dan saat itu kamera akan selalu menangkap senyum di sebelah beliau. Di bibir istri tercintanya. Hanya itukah yang dikerjakan seorang ibu negara? Entah. Ada yang bilang Pak Harto ambruk karena ditinggal ibu negara.
Beliau lengser. Katanya mengundurkan diri. Akhirnya celah itu dibuka paksa oleh hawa yang konon bernama reformasi. Karena memang sudah waktunya bau amis tercium, atau nafsu penguasa lain yang bergerak tergesa-gesa tanpa perhitungan? Tidak jelas. Hanya Tuhan yang tau. Yang jelas, permukaan itu tidak lagi stabil. Si KKN digrebek oleh kawannya yang bernama KKN dan bersenjatakan KKN. Korupsi, kolusi, dan nepotisme ditambal sulam. Bapak Soeharto akhirnya menyerah. Entah tidak sanggup lagi atau taat pada skenario yang memang dibuatnya. Benar atau salah, bukan itu yang penting. Toh skenario itu sudah dapat mengabulkan hampir semuanya. Lalu, apakah skenario jeniusnya sudah tamat saat itu? Entah. Ada yang bilang adegan terbaiknya adalah saat di panggung G30S/PKI.
Beliau sakit. Semua terbongkar. Ternyata kondisi ’stabil’ sebuah bangsa tidak cukup dibayar oleh tujuh turunan generasi tersebut. Bagian mana yang mahal? Jembatan? Hotel? Atau pabrik mobil sang anak tercinta? Lalu, bagaimana pula dengan skenario sejarah yang dilegalisirnya sendiri dalam buku pelajaran seluruh generasi Indonesia? Percuma menerka bila jawabannya disembunyikan malaikat. Presiden-presiden selanjutnya ternyata belum sanggup menyamai posisi beliau. Entah karena tiba-tiba terangkat sehingga perencanaan belum sempurna, atau hanya sekedar ngabisin penasaran saja pingin duduk di kursi beliau dan sesekali membelikan mobil mewah untuk keluarga tercinta… Pak Harto dituntut karena perbuatannya. Benarkah ia sakit ketika dipanggil ke pengadilan? Entah. Ada yang bilang bangsa ini memang simpatik, itu mengapa SBY menang di pemilu terakhir.
Beliau meninggal. Masyarakat bingung. Sebagian berpendapat agar kasusnya ditutup karena memaafkan adalah perintah Tuhan. Namun sebagian lagi berkata keadilan harus ditegakkan. Pemerintah juga mungkin bingung harus bergantung nasib pada pihak yang kuat namun sedikit, atau lemah tapi bukan main banyaknya. Opini politik menjadi simpang siur. Kasus pidana sempat ditutup karena pengadilan Indonesia menganggap tubuh renta itu hanya layak dijatuhi tuntutan perdata. Sudah mau mati katanya. Lalu dimanakah anaknya yang sudah dibikinkan pabrik mobil itu? Atau anaknya yang diberi uang saku melalui pembangunan jalan-jalan dan jembatan-jembatan? Atau cucunya yang turut menyesap air susu emas hasil tabungan seluruh masyarakat melalui jalan tol dan ijin kaki lima? Dan kemanakah para tangan kanannya yang berseragam kopri atau coklat pupus di kantor-kantor tempat memutar-balikkan fakta? Pak Harto telah meninggal. Tapi benarkah menutup kasusnya merupakan tindakan paling manusiawi untuk jasa beliau dan keluarganya? Saya bilang tidak cukup manusiawi bila tujuh turunan Pak harto hanya menikmati manisnya KKN. Benarkah pendapat saya? Entah. Ada yang bilang saya hanya perempuan sok tau.
Comments »
The URI to TrackBack this entry is: http://niczide.blogsome.com/2008/01/28/selamat-jalan-pak-harto-kata-metro-tv/trackback/
No comments yet.
RSS feed for comments on this post.
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>