Insting
October 31, 2008Seperti halnya monyet dan anjing, manusia juga memiliki insting.
Ya, insting. Sesuatu yang tidak terlihat dan membuat hewan dan manusia melakukan hal-hal tertentu tanpa perlu diajarkan sebelumnya. Bayi secara otomatis akan bergerak mencari puting susu ketika diletakkan di perut ibunya, atau manusia pedalaman yang tidak dapat membaca atau menjangkau video porno namun dapat bercinta dan bahkan mengerti benar cara memperkosa seorang anak gadis. Itu salah satu contohnya.
Saya masih ingat benar penjelasan guru SD saat itu, bahwa manusia berbeda dari binatang. Hewan memiliki insting, dan manusia memiliki akal budi. Sama-sama tidak terlihat dan tidak dapat diukur, namun memiliki posisi yang berbeda -katanya. Akal budi memiliki derajat yang lebih tinggi dibanding insting. Saat itu, lega sekali saya mendengar berita baik ini. Perasaan bangga dan beruntung memberi pasokan semangat ditengah kebosanan jam sekolah. Senangnya saya tidak disamakan dengan monyet yang suka merampas apa saja yang bukan miliknya, atau anjing yang melakukan penetrasi di pinggir jalan umum, atau seperti kucing yang selalu mengemis makanan yang sedang dimakan temannya dengan cara menunggu temannya lengah atau menyerang bila merasa lebih kuat. Semua itu karena saya memiliki akal budi, dan bukan insting -katanya.
Teori turun-menurun itu sudah mendarah daging di setiap anak Indonesia. Insting, akal budi. Akal budi, insting. Insting punya binatang, akal budi adalah kehormatan manusia. Akal budi untuk berpikir, insting untuk memprediksi dengan perasaan. Insting langsung menuruti perasaan, akal budi menyaring mana insting yang benar dan mana yang tidak boleh direalisasikan -seharusnya.
Dua istilah itu memiliki arti berbeda. Sangat berbeda sebenarnya. Yang satu membawa ke arah tertentu, dan yang satunya mendorong ke kutub yang berseberangan. Susah untuk membedakan, apalagi untuk dipikirkan. Terlalu membosankan dan membuat lelah. Namun sekarang ada kabar baik. Di dunia nyata -keluar dari buku PMP berkertas buram yang lepas-lepas halamannya karena lem busuk yang digunakan hanya menjamin buku itu siap untuk diserahkan ke tangan konsumen, insting dan akal budi memiliki arti yang sama. Dampaknya pun sama. Akal budi hanya istilah yang sengaja dibuat, karena pada umumnya manusia tidak suka disamakan dan dibandingkan, apalagi dengan hal yang dianggap remeh. Kini, kita dapat mengingat dan mengerti kedua kata itu dengan mudah, karena ternyata memiliki makna yang sama.
Untuk memudahkan, saya memperhatikan tingkah laku anjing dan kucing. Dua binatang yang hidup berdampingan tapi selalu membuat suasana panas dengan pelecehan yang saling diberikan, sebelum keduanya bersembunyi kembali dalam kelompoknya masing-masing yang dapat menyamarkannya dan menghilangkan ketakutan dirinya sendiri. Semua yang dilakukan kucing dan anjing berdasarkan insting. Akal budi? Sama saja. Itu pula yang terlihat dari manusia berakal budi. Ternyata sangat mudah dimengerti.
Monyet : "Tapi mungkin ada bedanya.."
Saya : "O ya?"
Monyet : "Sepertinya begitu. Akal budi memiliki kemampuan lebih.."
Saya : "?"
Monyet : "Kami tidak bisa memfitnah hanya dengan bermodal insting. Manusia bisa. Benar kan?"
Saya : "Benar juga.."
Anjing : "Dan menjilat.. Dengan insting, kami hanya menjilat pantat sendiri untuk tujuan membersihkan. Sedangkan manusia bisa memperoleh segalanya hanya dengan menjilat. Luar biasa tampaknya ‘akal budi’ itu ya.."
Saya : "Persis. Memang kalian pikir, dengan apa bangsa ini dibentuk?"
Anjing : "O.. Maaf, kami hanya hidup dengan insting, tidak bisa berpikir.."