, Lalu..?

November 28, 2008

Sifat dasar manusia adalah menuntut..

Selalu merasa disakiti,

selalu merasa dapat mengontrol segala sesuatu.

Satu-satunya cara menjadi manusia sempurna adalah dengan menyingkirkan perasaan.

Tapi bila perasaan telah tersingkir, bagaimana aku dapat mencintaimu?

Bukankah permohonanmu adalah mencintai dan dicintai oleh manusia sempurna? 

 

Special Day

November 4, 2008

She was born like everybody does.

She cried loudly like all kids.

She used to wear school uniform, and once.. she wore a graduation costume.

She always holding my fingers when we walk together… until now.

She always covering me with my bed cover before i go to sleep.

She cooks when i starving in the midninght.

She never forget to buy something for her brothers and sister when she go to any market.

She loves to make plastic bracelet for me and my girl friends.

She cries when people cry.

She never complain when people change her food with something they don’t like.

And she keeps smiling when she feels sick.

 

Today is her day,

She is a woman now.

She is different and special..

 

Happy Birthday, my lovely sister..

Thank God we have an angel in house.

I love u, and so proud of you… 

Cerita

"Mengapa?", tanyanya sederhana.

"Mengapa bukan aku??", desaknya. Ia tak sabar menunggu jawabanmu atas kebingungannya. Kau hanya diam dan membalas genggaman tangannya yang semakin keras. Tangan putihmu mulai berbekas merah karena peredaran darah yang tertahan. Pandanganmu tajam menuju matanya, mata yang mulai berair karena keputusanmu.

***

Waktu itu, ia begitu bergembira saat kau menyetujui usulnya untuk pergi melukis. Dermaga pasti indah pagi ini, ujarnya pelan sebelum kau masuk dalam mobilnya. Aku hanya tersenyum melihat ekspresinya saat itu. Entah karena cerahnya pagi, atau karena kau ada bersamanya. Dengan senyum yang masih ada di bibirnya, ia mencium tanganmu saat kau muncul di depan wajahnya dengan kanvas dan peralatan melukismu.

Dengan kadar semangat yang sama, kau mengeluarkan bungkusan gorengan.

"Masih panas nih..", katamu sambil mengambilku untuk membungkus pisang goreng panas itu dan menyuapinya. Tanpa ragu ia membuka mulutnya. Kau mengambilku satu lagi setelahnya untuk membungkus milikmu sendiri, agar tanganmu tidak berminyak.

Perjalanan melukis seharian di dermaga itu begitu penuh dengan cerita-cerita yang mengalir tiada ujungnya. Kalian terlihat sangat menikmati setiap detik yang dilalui, membuat perjalanan bagai di atas awan, dimana tidak ada kemacetan lampu merah atau bisingnya jalanan ibu kota. Sampai satu saat,

"Aku mau ke Afrika. Kumohon ikutlah bersamaku. Kita bangun kehidupan baru dimana tidak ada orang yang mengenal kita disana.. Sesuai dengan impianmu untuk berada di tempat asing dan memulai sesuatu yang baru, bukan?", tanyanya mengejutkanmu. Kau tidak bisa berkata-kata saat itu. Dari keterkejutan dalam diam, wajahmu menjadi ragu dan penuh kebingungan, masih dalam diam. Tanganmu mulai mengendur dalam genggamannya. Ia mulai panik melihatmu memucat.

"Aku bisa membatalkan kalau kau tidak suka dengan keputusan ini. Tapi kumohon.. ikatlah diriku bersamamu. Aku bersedia sujud kepada dia yang memilikimu untuk bisa menyerahkanmu. Percayalah, aku yang paling membutuhkanmu di dunia ini.. Aku mencintaimu. Aku mau pergi kemanapun bersamamu. Ikatlah diriku.. Pilihlah aku…"

Saat itu kau hanya diam. Kulihat air matamu mulai membendung. Aku tahu kau bingung.

***

Seperti saat ini, bendungan air mata di bola matamu kembali kusaksikan. Namun bukan karena bingung, tapi karena sedih. Kau sedih karena tidak bisa memenuhi impiannya untuk bisa bersamamu. Tapi kau yakin bahwa ini keputusan yang paling benar.

"Maafkan aku… Tapi kau tidak layak hanya menerima diriku yang sebagian. Cintamu berhak diberi yang sepenuhnya. Sedangkan aku, keutuhanku telah tergantung padanya yang memilikiku. Bersamamu aku memperoleh pertemanan yang kubutuhkan, bersamamu aku dapat melaksanakan cita-cita kita, …tapi hanya bersamanya aku merasa utuh. Pergilah… Lepaskanlah ikatanmu dariku…"

Kini, kau tinggalkan dia bersamaku. Aku tahu dia membutuhkanku untuk menyeka wajahnya yang basah karena air mata yang entah kapan akan mengering. Tapi aku juga tahu, hatinya membutuhkanmu. Perjalananku bersamanya kini sepi. Mobilnya hampa akan suara dan rasa. Udara hambar tanpa intonasi emosi.

Ya, aku tissue yang sanggup membersihkan dengan menyerap cairan.. Tapi kau telah menyerap lebih banyak, menghabiskan semangatnya.

2006 © Niczide - Monica Anastasia | This weblog using : Blogsome™ and Wordpress™

All Right Reserved. Design by reeworkz | contact reeworkz

Please, for you convinience use Firefox 2.0™ | XHTML valid | CSS valid