Lewat Umur 24

January 1, 2009

Kalau ditanya, ‘umur berapa hidup seorang perempuan mulai mengalami komplikasi?’, saya akan menjawab ‘24 tahun’. Karena, ya, ini berhubungan dengan pernikahan yang katanya berlaku untuk seumur hidup. Seorang ayah, ibu, dan mulut-mulut lain akan dengan tidak segan mempertanyakan perihal waktu acara pernikahan untuk orang yang sudah memiliki pacar. Atau mulai mengancam bila pilihan anaknya dianggap bukan yang terbaik. Tidak sedikit juga yang menekan dengan perintah ‘mencari pacar’ untuk anaknya yang terlihat belum memiliki pacar. Upaya menjodohkan atau mengawinkan juga akan dilakukan bila mereka tidak melihat inisiatif dari sang anak untuk mencari calon pasangan hidup.

Aneh. Menikah yang katanya sangat penting dan berbahaya, malah berubah menjadi pemaksaan yang segera mungkin harus dilaksanakan. Padahal belum tentu semua orang sanggup untuk menjadi suami/istri untuk pasangannya, atau untuk menjadi ayah/ibu untuk anak-anaknya. Perlu tekad, kesiapan secara mental, dan kemampuan riil untuk seseorang dapat membangun keluarga.

Takut akan seks bebas yang dilakukan anaknya sebelum menikah? Mengapa harus takut bila seks yang dilakukan aman dan tidak menimbulkan korban jiwa?? Bukankah yang perlu diajarkan adalah cara melakukan seks dengan aman? Atau bila harus ekstrim, pikirkanlah solusi lain dengan menjahit vagina anaknya seperti orang Nigeria, misalnya. Toh solusi itu lebih dekat dengan titik aman dibandingkan memaksa seorang individu yang tidak memiliki kapabilitas untuk menikah?

Kuatir anaknya tidak menghasilkan keturunan bila tidak menikah? Bila yang diberatkan adalah anak, usahakanlah anak! Bukan pernikahan!! Cari ‘bibit unggul’, periksa kesehatannya, perintahkan mereka intercourse agar sperma dapat berpindah dan bertemu ovum, sehingga janin bisa terbentuk. Itu cara murah. Bagi keluarga yang logikanya kalah dengan aturan agama, pilihlah bayi tabung. Terjamin kualitasnya, kebersihan dan kesehatannya, dan tidak dipandang hina oleh lingkungan sekitar. Mahal? Ya resiko. Toh punya anak memang seharusnya adalah keputusan orang-orang yang sanggup mencari uang saja, bukan? Orang miskin yang bahkan mengalami kesulitan memasukkan makanan ke dalam mulutnya atau orang kaya yang berprioritas pada Prada dibanding keluarga, TIDAK BERHAK untuk memiliki anak. Orang-orang nekad seperti ini yang merusak generasi bangsa dan justru menimbulkan korban jiwa.

Tidak mau anaknya dicap ‘perawan tua’? Menurut saya, perawan tua jauh lebih terhormat dibanding manusia-manusia lain yang tidak bertanggungjawab. Nekad mengambil keputusan tapi belum mampu berpikir, apalagi bertanggungjawab dengan keputusan itu, jauh lebih menyedihkan dari sekedar perawan tua. Apa yang salah bila seseorang lebih nyaman hidup dengan dirinya sendiri? Mengapa banyak orangtua justru mengganggu kenyamanan hidup anaknya dengan memberikan beban yang tidak sanggup dipikulnya? Wajari ketakutan anak mungkin lebih bijak. Biarkan ia menjadi ‘pengecut’ dengan satu alasan, tahu apa yang menjadi keterbatasannya.

Malu bila anaknya terus berpindah-pindah pasangan? Positifnya, paling tidak yang dirugikan adalah dirinya sendiri. Tidak ada anak yang berduka karena ketidaksiapan orangtuanya, atau ketidakmampuan orang yang sok mampu memiliki anak. Bila terlalu malu, pindah saja ke kota atau negara lain. Mencari kehormatan di negara lain toh bukan dosa. Sambil menunggu anaknya bosan dengan pola hidup berpindah-pindahnya itu.. Sekali lagi, yang penting TIDAK MENIMBULKAN KORBAN JIWA. Dan lagi, apa pernikahan dapat menjamin seseorang tidak berpindah-pindah pasangan?? Berapa banyak orang yang bersih dari perselingkuhan dan tidak pernah merasakan sakit hatinya? Come on, answer me!!

Melarang anaknya atau membicarakan orang lain karena menikah dengan pilihannya? Okay, here’s the point, menikah bukan hal yang mudah. Permasalahan akan dan pasti timbul di kemudian hari. Tidak jarang juga penyesalan menghancurkan segalanya. Bila kesedihan dan kehancuran itu timbul karena ‘usul’ dari orang lain, kebayangkah penyesalannya?? Tapi bila derita yang sama dialami karena pilihan sendiri, itulah pelajaran. Paling tidak akibat dari kesalahan diri sendiri, bukan orang tua atau tetangga, atau keluarga besar. Lagipula, saat masalah muncul di kemudian hari, apakah mereka-mereka yang dulu ikut mengatur, akan datang membantu??? It’s not gonna be like that, for sure!

Jadi mungkin ada baiknya (selain kedua orangtua) bila mulai stop menyuruh, mendesak, mengatur, atau bahkan bertanya tentang pernikahan anak orang lain. Everybody has a different way, and being married is NOT THE ONLY WAY to live. So, here is my suggestion, why don’t you go take care your own ass and shut ur mouth up?

2006 © Niczide - Monica Anastasia | This weblog using : Blogsome™ and Wordpress™

All Right Reserved. Design by reeworkz | contact reeworkz

Please, for you convinience use Firefox 2.0™ | XHTML valid | CSS valid