Cerita Lebaran Cina

February 10, 2009

Keluarga besar berkumpul. Kali ini dengan sebab Lebaran Cina. Makanan menjadi pusat kesibukan utama. Konon, makanan yang dimasak harus sangat tepat rasanya. Kalau biasa semua orang bisa memasak, kali ini harus sang pakar yang memasak. Dan tidak lain adalah ia yang setingkat dengan nenek. Setahun sekali ia harus masak, yaitu pada saat Lebaran Cina. Bukan ulang tahunnya, atau tahun baru ‘biasa’. Sangat pentingnya momen ini untuk yang merayakan, karena dianggap sikap diawal tahun akan menentukan sepanjang tahun tersebut.

Satu per satu keluarga mulai berdatangan. Tidak semua keluarga datang, karena sebab ‘putus hubungan’ kakak-adik mereka berkomitmen untuk tidak lagi bertemu satu sama lain. Biasanya yang paling pertama datang adalah ia yang paling membutuhkan angpao. Hehe, maaf, tapi memang begitu kenyataannya. Kebetulan saya tidak bisa bergabung dengan keluarga tahun ini (ya, ok, tahun lalu juga kebetulan ga bisa :p ya maapp..) karena punya acara dengan teman-teman kampus di luar kota. Karena ketidakhadiran itu, sehari setelah kumpul keluarga, mami menghubungi (meng-update) dan bercerita panjang lebar. Dan apa yang diceritakan? Sesuai dengan perkiraan saya, tentu saja ‘masalah keluarga’.

Baru diketahui, ternyata salah satu keluarga yang terkenal harmonis (diantara keluarga lain yang kebanyakan hampir bercerai), sedang bermasalah. Sang istri yang dipersalahkan terpaksa pergi dari rumah untuk beberapa hari karena sakit hati, meninggalkan empat anaknya. Tidak ada yang bisa menghubungi selama ia pergi, termasuk anak-anaknya. Suami yang ketakutan, bercerita kepada keluarga dengan versinya sendiri untuk membenarkan diri. Anak-anaknya? Sebagian hanya menangis dan tidak bisa tidur. Yang satunya merasa sakit hati karena nasehat yang sering diterimanya adalah, "Kita keluarga, makanya harus selalu bersama-sama. Tidak peduli apa yang terjadi, kita harus terus bersama-sama.". Yang satu lagi memaki ayahnya yang menjadi tersangka perginya ibu mereka.

Kepala keluarga yang lain lagi memanfaatkan pertemuan keluarga ini untuk meminjam modal usaha. Dan tidak terkecuali pada kesempatan ini, usul itu menghasilkan ceramah panjang yang diselingi tawa merendahkan. Lalu apa yang dilakukannya? Ia memangku anaknya, duduk di sofa pojok ruangan, dan diam disana sampai waktunya pulang.

Saudara yang lain lagi duduk di tengah ruangan, melihat barang dagangan adiknya. Selama adiknya mempromosikan dan bersusaha keras menjual barang dagangannya itu, ia becanda dengan keponakan yang lain. Selesai adiknya itu berpromosi, ia bertanya: "Suamimu belum dapet kerja?".

Sebagian cerita-cerita seperti itu sudah sangat biasa didengar. Sampai-sampai tanpa perlu diceritakan, semua sudah dapat menduganya. Sesuai judul diatas, saya cuma mau bercerita, bukan menghakimi atau menilai. Lalu?? Entah. Bersimpati atau selalu membantu juga bukan keputusan yang benar memang. Tapi paling tidak, bersikap suportif kan gratis. Kalau mau membantu, berikan semampunya. Kalau tidak bisa membantu, tidak perlu menambahkan komentar-komentar yang malah menyakitkan. Kalau bersimpati terhadap kejadian yang menimpa saudara, berilah sedikit solusi yang menghibur. Kalau tidak punya solusi, cukup jadi pendengar pun sudah sangat membantu. Kalau malah tidak bersimpati?? Jangan pula mengharapkan simpati dari orang lain.

Yah, walaupun bersikap suportif tidak merugikan diri sendiri, tapi memang tidak semua orang berada dalam kondisi cukup dewasa untuk melakukannya. Tapi sampaipun demikian, tidak bisakah berusaha untuk bersikap netral? Tidak merugikan diri sendiri dan tidak pula menyakitkan orang lain. Tidak menguntungkan yang lain, tidak pula berusaha mencari keuntungan untuk diri sendiri.

*Cerita diatas tentang keluarga loh, kelompok terkecil dalam masyarakat. Bukan tentang kelompok partai yang saling menyerang. Atau kelompok agama yang saling menjatuhkan.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://niczide.blogsome.com/2009/02/10/cerita-lebaran-cina/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

2006 © Niczide - Monica Anastasia | This weblog using : Blogsome™ and Wordpress™

All Right Reserved. Design by reeworkz | contact reeworkz

Please, for you convinience use Firefox 2.0™ | XHTML valid | CSS valid