BOSAN

February 28, 2009

Selain takut menjadi sakit, menjadi miskin, atau menjadi gemuk, ternyata saya takut bosan.  Menjadi bosan sebenarnya adalah gejala sederhana yang pasti timbul ketika manusia menjalani hidup. Tapi ternyata bisa menjadi faktor utama mengapa manusia dapat berubah atau bahkan memutar haluan rencana masa depannya, sengaja atau tidak.

Bosan, entah zat aneh apa lagi yang terkandung dalam darah manusia. Tidak berwujud, tidak berbau atau berwarna, tapi sanggup berubah menjadi energi-energi yang kadang begitu kuat sampai manusia pun tidak dapat mengatasinya. Bisa berjasa, bisa juga berakibat pada kerugian yang disesali seumur hidup.

Cerita tentang orang kaya yang tidak bahagia merupakan hal biasa. ‘Uang bukan segalanya’ -dibalik persoalan benar atau tidak- adalah hal membosankan. Entah menjadi bahan pelajaran untuk menyeimbangkan hidup, atau sekedar menjadi penghiburan untuk manusia yang memang tidak mampu untuk mencari uang sedemikian banyak. Tapi sebenarnya, bukan jumlah uang atau kebutuhan memuaskan keinginan. Yang menjadi masalah untuk orang kaya yang sanggup membeli segalanya dalam waktu singkat adalah: hal BARU di dunia ini TERBATAS. Bayangkan bila ada anak yang memang terlahir dan sudah dapat diperkirakan akan meninggal dalam kondisi kaya raya. Selama kurang lebih 80 tahun hidup, berapa banyak ia harus mengusahakan hal baru dengan uangnya yang sanggup membeli apapun? Itu mengapa, pada akhirnya makan di pinggiran jalan atau pergi ke pasar menjadi hal istimewa. Yang dibeli? Tentu saja sensasi. Hal baru yang membuat jantung kembali semangat berdenyut dan darah mengalir karena keinginannya sendiri, tidak terpaksa akibat dorongan pompa jantung.

Hal abstrak ini bisa sangat mengganggu dan menakutkan. Parahnya lagi, bosan tidak bisa dihindari. Oleh manusia jenis apapun, agama apapun, dari manapun. Bosan tidak bisa diniatkan untuk ‘tidak akan bosan!’. Gejalanya pun samar. Tiba-tiba saja bosan. Sehari bosan, dua hari mulai gusar, tiga hari menahan diri, hari keempat bosan akut, dan BOOM!.. hari kelima terjadi sesuatu yang tidak pernah diperkirakan. Akibatnya? Entah. Lah, yang diperkirakan saja belum tentu bisa diselesaikan dengan tepat, apa lagi yang mendadak?? Lagi-lagi, ini menakutkan. Segala usia akan merasakannya, karena ini terjadi dalam segala aspek.

Yang bisa dilakukan mungkin mengenali diri sendiri. Jagai diri dari gejalanya yang paling dasar, dan siapkan ‘antibiotik’nya bila serangan itu mendadak datang. Paling tidak agar kebosanan ini menjadi pemicu untuk melompat ke hal yang lebih baik, bukan melulu menjadi penyebab stress karena kejenuhan tingkat tinggi. Siapkan sensasi yang bila dikawinkan dengan gejala kebosanan itu malah membentuk embrio positif.

Selain itu, bersyukurlah untuk anak-anak yang jarang makan daging karena kemewahan sesekali itu masih bisa menyemangati hari. Bersyukur untuk orang yang tidak memiliki mobil sampai saat ini, karena bila suatu saat nanti dapat memilikinya, orang itu akan mensyukuri segala perjalanan yang dapat dilakukannya. Beruntung untuk mereka yang kesulitan memiliki pasangan untuk menikah karena ‘bahagia’ itu kelak akan mendesirkan rasa tanggungjawab dalam porsi lebih besar. Untuk pasangan yang belum memiliki anak, bersyukurlah karena belum merasakan kebosanan merawat dan luka hati karena memiliki anak, karena suatu saat sensasi itu akan menjadi nikmat. Bersyukur juga karena pola hidup yang tidak seperti keluarga pengusaha besar yang biasa menikahkan anak cucunya di luar negeri atau hoki aktris sinetron, karena sesekali merasakannya akan membuat hidup istimewa.

Untuk yang ternyata tidak pernah merasakannya? Jangan menunggu, tapi usahakan! Tidak bisa juga? Mungkin bisa mencoba menikmati posisi yang tidak seberuntung yang lain dan jadikan itu sensasi tersendiri. Mau apa lagi? Daripada bunuh diri karena bosan??

Saya? Tiap hari saya membuka tudung saji, terlihat berbagai macam sensasi disana. Ada yang sudah matang dan siap makan, ada yang masih mentah dan tersedia banyak di pasar, ada yang cuma satu saya miliki dalam hidup dan masih diawetkan. Semua boleh dinikmati karena itu adalah hak saya. Tapi agar tidak kekenyangan dan mengeluarkannya kembali dalam bentuk busuk, saya harus mengatur waktu dan porsinya. Ada sensasi yang harus dimakan sekaligus, ada pula yang harus digigit perlahan-lahan. Ada yang rasanya manis, ada pula yang pahit. Yang penting rasa BARU. Karena itu harus diramu, sesuai kondisi dan selera. Ribet? Banget. Tapi ya itulah, demi biar tidak bosan. Males aja kalo harus terpublikasi karena mati bosan. Kurang sensasional. Hehee

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://niczide.blogsome.com/2009/02/28/bosan/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

2006 © Niczide - Monica Anastasia | This weblog using : Blogsome™ and Wordpress™

All Right Reserved. Design by reeworkz | contact reeworkz

Please, for you convinience use Firefox 2.0™ | XHTML valid | CSS valid