Keep Moving.

February 11, 2009

Human being is a very unique creatures. They can’t live without others, but they can be so damn individual. But beside that two, they are so emotional. Socialist, individualist, and emotionalist. What a thing!

Why? One night i could felt pissed off, terribly messed up like a dying person. But in the next morning, it was suddenly disappeared. I lost the sadness, and wondered why i became so emotional last night. It was pretty weird, and i couldn’t control that feeling. But in the morning, everything is alright. Meanwhile, what did i do?? Nothing. I just cried all night long, and fell asleep. And everything become good? I am afraid so. It really is!

It’s amazing. I feel like a big ballon with sand in the bottom of me. Hands punched me badly until i kiss the floor ass, but i can go up high to the air, stand on my feet with strength from nowhere. From God? It is the most possible thing that can explain this. But that’s not my point. I’m not gonna talk about God. Maybe at least, I’m not talk about the power. It’s a gift. Human being have to deal with life. And here I am. I am dealing with life, cried on and standing up on my own feet. Suddenly, I’m ready for every coming shits, after wished death the other night before.

Not always that easy though, I used to wake up with teary eyes. Everything wasn’t done yet. I felt that i was too weak to stand. So? WAIT. Yea, if you can’t deal with life, so you deal with time. Be patient, because time is moving, and changes are everywhere. Even though there is no ‘happily ever after’, but it gonna be stop killing you. It have to be stop, and it will. Just wait. Try to move on. Maybe it is impossible to jump up with your weak soul, but keep moving. Raise your hands, give a little move for fingers and legs. One day, you will stand again.

Just not sleep. If you freeze, you will numb. You will have no idea when the power improves your healthy. Trust me, all we need is just keep fuckin moving!

Cerita Lebaran Cina

February 10, 2009

Keluarga besar berkumpul. Kali ini dengan sebab Lebaran Cina. Makanan menjadi pusat kesibukan utama. Konon, makanan yang dimasak harus sangat tepat rasanya. Kalau biasa semua orang bisa memasak, kali ini harus sang pakar yang memasak. Dan tidak lain adalah ia yang setingkat dengan nenek. Setahun sekali ia harus masak, yaitu pada saat Lebaran Cina. Bukan ulang tahunnya, atau tahun baru ‘biasa’. Sangat pentingnya momen ini untuk yang merayakan, karena dianggap sikap diawal tahun akan menentukan sepanjang tahun tersebut.

Satu per satu keluarga mulai berdatangan. Tidak semua keluarga datang, karena sebab ‘putus hubungan’ kakak-adik mereka berkomitmen untuk tidak lagi bertemu satu sama lain. Biasanya yang paling pertama datang adalah ia yang paling membutuhkan angpao. Hehe, maaf, tapi memang begitu kenyataannya. Kebetulan saya tidak bisa bergabung dengan keluarga tahun ini (ya, ok, tahun lalu juga kebetulan ga bisa :p ya maapp..) karena punya acara dengan teman-teman kampus di luar kota. Karena ketidakhadiran itu, sehari setelah kumpul keluarga, mami menghubungi (meng-update) dan bercerita panjang lebar. Dan apa yang diceritakan? Sesuai dengan perkiraan saya, tentu saja ‘masalah keluarga’.

Baru diketahui, ternyata salah satu keluarga yang terkenal harmonis (diantara keluarga lain yang kebanyakan hampir bercerai), sedang bermasalah. Sang istri yang dipersalahkan terpaksa pergi dari rumah untuk beberapa hari karena sakit hati, meninggalkan empat anaknya. Tidak ada yang bisa menghubungi selama ia pergi, termasuk anak-anaknya. Suami yang ketakutan, bercerita kepada keluarga dengan versinya sendiri untuk membenarkan diri. Anak-anaknya? Sebagian hanya menangis dan tidak bisa tidur. Yang satunya merasa sakit hati karena nasehat yang sering diterimanya adalah, "Kita keluarga, makanya harus selalu bersama-sama. Tidak peduli apa yang terjadi, kita harus terus bersama-sama.". Yang satu lagi memaki ayahnya yang menjadi tersangka perginya ibu mereka.

Kepala keluarga yang lain lagi memanfaatkan pertemuan keluarga ini untuk meminjam modal usaha. Dan tidak terkecuali pada kesempatan ini, usul itu menghasilkan ceramah panjang yang diselingi tawa merendahkan. Lalu apa yang dilakukannya? Ia memangku anaknya, duduk di sofa pojok ruangan, dan diam disana sampai waktunya pulang.

Saudara yang lain lagi duduk di tengah ruangan, melihat barang dagangan adiknya. Selama adiknya mempromosikan dan bersusaha keras menjual barang dagangannya itu, ia becanda dengan keponakan yang lain. Selesai adiknya itu berpromosi, ia bertanya: "Suamimu belum dapet kerja?".

Sebagian cerita-cerita seperti itu sudah sangat biasa didengar. Sampai-sampai tanpa perlu diceritakan, semua sudah dapat menduganya. Sesuai judul diatas, saya cuma mau bercerita, bukan menghakimi atau menilai. Lalu?? Entah. Bersimpati atau selalu membantu juga bukan keputusan yang benar memang. Tapi paling tidak, bersikap suportif kan gratis. Kalau mau membantu, berikan semampunya. Kalau tidak bisa membantu, tidak perlu menambahkan komentar-komentar yang malah menyakitkan. Kalau bersimpati terhadap kejadian yang menimpa saudara, berilah sedikit solusi yang menghibur. Kalau tidak punya solusi, cukup jadi pendengar pun sudah sangat membantu. Kalau malah tidak bersimpati?? Jangan pula mengharapkan simpati dari orang lain.

Yah, walaupun bersikap suportif tidak merugikan diri sendiri, tapi memang tidak semua orang berada dalam kondisi cukup dewasa untuk melakukannya. Tapi sampaipun demikian, tidak bisakah berusaha untuk bersikap netral? Tidak merugikan diri sendiri dan tidak pula menyakitkan orang lain. Tidak menguntungkan yang lain, tidak pula berusaha mencari keuntungan untuk diri sendiri.

*Cerita diatas tentang keluarga loh, kelompok terkecil dalam masyarakat. Bukan tentang kelompok partai yang saling menyerang. Atau kelompok agama yang saling menjatuhkan.

Lewat Umur 24

January 1, 2009

Kalau ditanya, ‘umur berapa hidup seorang perempuan mulai mengalami komplikasi?’, saya akan menjawab ‘24 tahun’. Karena, ya, ini berhubungan dengan pernikahan yang katanya berlaku untuk seumur hidup. Seorang ayah, ibu, dan mulut-mulut lain akan dengan tidak segan mempertanyakan perihal waktu acara pernikahan untuk orang yang sudah memiliki pacar. Atau mulai mengancam bila pilihan anaknya dianggap bukan yang terbaik. Tidak sedikit juga yang menekan dengan perintah ‘mencari pacar’ untuk anaknya yang terlihat belum memiliki pacar. Upaya menjodohkan atau mengawinkan juga akan dilakukan bila mereka tidak melihat inisiatif dari sang anak untuk mencari calon pasangan hidup.

Aneh. Menikah yang katanya sangat penting dan berbahaya, malah berubah menjadi pemaksaan yang segera mungkin harus dilaksanakan. Padahal belum tentu semua orang sanggup untuk menjadi suami/istri untuk pasangannya, atau untuk menjadi ayah/ibu untuk anak-anaknya. Perlu tekad, kesiapan secara mental, dan kemampuan riil untuk seseorang dapat membangun keluarga.

Takut akan seks bebas yang dilakukan anaknya sebelum menikah? Mengapa harus takut bila seks yang dilakukan aman dan tidak menimbulkan korban jiwa?? Bukankah yang perlu diajarkan adalah cara melakukan seks dengan aman? Atau bila harus ekstrim, pikirkanlah solusi lain dengan menjahit vagina anaknya seperti orang Nigeria, misalnya. Toh solusi itu lebih dekat dengan titik aman dibandingkan memaksa seorang individu yang tidak memiliki kapabilitas untuk menikah?

Kuatir anaknya tidak menghasilkan keturunan bila tidak menikah? Bila yang diberatkan adalah anak, usahakanlah anak! Bukan pernikahan!! Cari ‘bibit unggul’, periksa kesehatannya, perintahkan mereka intercourse agar sperma dapat berpindah dan bertemu ovum, sehingga janin bisa terbentuk. Itu cara murah. Bagi keluarga yang logikanya kalah dengan aturan agama, pilihlah bayi tabung. Terjamin kualitasnya, kebersihan dan kesehatannya, dan tidak dipandang hina oleh lingkungan sekitar. Mahal? Ya resiko. Toh punya anak memang seharusnya adalah keputusan orang-orang yang sanggup mencari uang saja, bukan? Orang miskin yang bahkan mengalami kesulitan memasukkan makanan ke dalam mulutnya atau orang kaya yang berprioritas pada Prada dibanding keluarga, TIDAK BERHAK untuk memiliki anak. Orang-orang nekad seperti ini yang merusak generasi bangsa dan justru menimbulkan korban jiwa.

Tidak mau anaknya dicap ‘perawan tua’? Menurut saya, perawan tua jauh lebih terhormat dibanding manusia-manusia lain yang tidak bertanggungjawab. Nekad mengambil keputusan tapi belum mampu berpikir, apalagi bertanggungjawab dengan keputusan itu, jauh lebih menyedihkan dari sekedar perawan tua. Apa yang salah bila seseorang lebih nyaman hidup dengan dirinya sendiri? Mengapa banyak orangtua justru mengganggu kenyamanan hidup anaknya dengan memberikan beban yang tidak sanggup dipikulnya? Wajari ketakutan anak mungkin lebih bijak. Biarkan ia menjadi ‘pengecut’ dengan satu alasan, tahu apa yang menjadi keterbatasannya.

Malu bila anaknya terus berpindah-pindah pasangan? Positifnya, paling tidak yang dirugikan adalah dirinya sendiri. Tidak ada anak yang berduka karena ketidaksiapan orangtuanya, atau ketidakmampuan orang yang sok mampu memiliki anak. Bila terlalu malu, pindah saja ke kota atau negara lain. Mencari kehormatan di negara lain toh bukan dosa. Sambil menunggu anaknya bosan dengan pola hidup berpindah-pindahnya itu.. Sekali lagi, yang penting TIDAK MENIMBULKAN KORBAN JIWA. Dan lagi, apa pernikahan dapat menjamin seseorang tidak berpindah-pindah pasangan?? Berapa banyak orang yang bersih dari perselingkuhan dan tidak pernah merasakan sakit hatinya? Come on, answer me!!

Melarang anaknya atau membicarakan orang lain karena menikah dengan pilihannya? Okay, here’s the point, menikah bukan hal yang mudah. Permasalahan akan dan pasti timbul di kemudian hari. Tidak jarang juga penyesalan menghancurkan segalanya. Bila kesedihan dan kehancuran itu timbul karena ‘usul’ dari orang lain, kebayangkah penyesalannya?? Tapi bila derita yang sama dialami karena pilihan sendiri, itulah pelajaran. Paling tidak akibat dari kesalahan diri sendiri, bukan orang tua atau tetangga, atau keluarga besar. Lagipula, saat masalah muncul di kemudian hari, apakah mereka-mereka yang dulu ikut mengatur, akan datang membantu??? It’s not gonna be like that, for sure!

Jadi mungkin ada baiknya (selain kedua orangtua) bila mulai stop menyuruh, mendesak, mengatur, atau bahkan bertanya tentang pernikahan anak orang lain. Everybody has a different way, and being married is NOT THE ONLY WAY to live. So, here is my suggestion, why don’t you go take care your own ass and shut ur mouth up?

, Lalu..?

November 28, 2008

Sifat dasar manusia adalah menuntut..

Selalu merasa disakiti,

selalu merasa dapat mengontrol segala sesuatu.

Satu-satunya cara menjadi manusia sempurna adalah dengan menyingkirkan perasaan.

Tapi bila perasaan telah tersingkir, bagaimana aku dapat mencintaimu?

Bukankah permohonanmu adalah mencintai dan dicintai oleh manusia sempurna? 

 

Special Day

November 4, 2008

She was born like everybody does.

She cried loudly like all kids.

She used to wear school uniform, and once.. she wore a graduation costume.

She always holding my fingers when we walk together… until now.

She always covering me with my bed cover before i go to sleep.

She cooks when i starving in the midninght.

She never forget to buy something for her brothers and sister when she go to any market.

She loves to make plastic bracelet for me and my girl friends.

She cries when people cry.

She never complain when people change her food with something they don’t like.

And she keeps smiling when she feels sick.

 

Today is her day,

She is a woman now.

She is different and special..

 

Happy Birthday, my lovely sister..

Thank God we have an angel in house.

I love u, and so proud of you… 

2006 © Niczide - Monica Anastasia | This weblog using : Blogsome™ and Wordpress™

All Right Reserved. Design by reeworkz | contact reeworkz

Please, for you convinience use Firefox 2.0™ | XHTML valid | CSS valid