Yang Cantik Yang Naik

May 4, 2009

Manusia hidup tampaknya tidak sesederhana ribuan bahkan jutaan kabel listrik yang digunakan untuk menghidupi Kota Jakarta. Karena walaupun kompleks, aliran itu masih beralur, terlihat jelas kabel-kabel yang bergaris. Cukup kesabaran untuk menelusuri jika memang segitu penasaran dibuatnya. Tapi sayangnya tidak.

Arah hidup tidak ditunjukkan oleh garis yang terlihat secara fisik. Manusia seolah-olah dapat hidup bebas, dapat menjadi segalanya, dapat mengejar obsesi dengan berbagai gaya. Manusia dapat berkhayal dan memikirkan apapun tanpa diketahui oleh lain. Manusia dapat merencanakan dan mengharapkan hal baik dan buruk terhadap sesamanya tanpa terlihat. Kebebasan ini ada seolah-olah panggung hidup terbuka luas tanpa ada juri didepannya. Tidak dinilai. Tidak di’waro’. Rasanya seperti itu.

Sampai suatu saat sesuatu terjadi, mulailah terdengar "ga lagi ah, kapok gw!" atau air mata yang berujar "kenapa harus gw ulangin lagi??" tanpa daya. Air mata yang cuma dapat mengalir kebawah, terbuang, meresap kembali ke tanah. Ya, penyesalan masih ada disana. Akan terjadi bila kita semena-mena bermain dalam panggung bebas itu. Saat itu baru terasa betapa kecil dan sempitnya panggung bermain manusia, betapa tajam pengamatan juri yang selalu berdiri disana, dan betapa adil penilaian yang dibuatnya.

Kemalangan, kesakitan, dan kehilangan tidak dapat ditidiakan karena permainan hidup manusia memang terlalu beresiko. Kenikmatan yang dikejar terlalu tinggi, obsesi yang ditargetkan terlalu berat, dan kebahagiaan yang diimpikan terlalu indah. Bukan, kesalahannya mungkin bukan pada cita-cita hidup atau semangat untuk mencari yang lebih baik lagi. Tetapi mungkin pada kesadaran dan kepekaan hidup yang diabaikan. Sensor ‘kesalahan’ ditutup dengan nafsu yang berlebih, hati nurani dikikis dengan kenikmatan sesaat. Hidup menjadi ‘kasar’. Permainannya tidak enak dilihat, gerakannya menabrak yang lain dan properti panggung. Orang lain dirugikan, properti panggung rusak, dan diri sendiri hancur. Panggung kacau. Penampilannya tidak cantik.

Panggung itu bukan penjara yang dibatasi luas dan ketinggiannya. Hanya satu yang dituntut selama masih ada diatas sana: berilah pertunjukan yang cantik. Yang enak dilihat. Yang luwes, bisa dinikmati sehingga menimbulkan perasaan senang untuk yang melihatnya. Tidak salah bila di dunia hiburan terkenal kalimat ‘yang cantik yang naik’. Sistemnya sama dengan panggung kehidupan. Manusia harus berdandan menggunakan ‘baju’ yang selalu bagus dan pantas, dan ‘make-up’ yang berkualitas agar sepanjang hidup wajahnya tidak dirusak oleh make-up itu sendiri. Gerakannya harus luwes, agar panggung yang penuh itu dapat berjalan teratur, tidak mengorbankan apapun, karena memang tidak sepantasnya panggung hiburan menimbulkan korban. Secara keseluruhan, tampilan pertunjukan harus indah sesuai dengan dekorasi panggung yang pastinya indah.

Untuk mempertahankan eksistensinya, seseorang harus memiliki bekal ‘wawasan’ yang luas, cermat mempelajari pergeseran ‘tren’ yang diinginkan juri, perencanaan yang strategis, dan ketenangan dalam bertindak. Kalau bisa disederhanakan, kondisi manusia yang ‘baik’ dan stabil dapat dipertahankan dengan pikiran positif, keinginan untuk berusaha dan cara yang yang cerdas akan memberi jalan agar mampu memberikan pertunjukan yang inovatif. Tidak membosankan. Sangat tidak mudah memang. Tapi begitulah..

Manusia tidak dituntut menjadi sempurna di panggung kehidupan, tapi dituntut untuk bermain cantik. Bukan sekedar untuk menyenangkan juri dan orang lain, tapi untuk menyelamatkan diri sendiri dari eliminasi dan… penyesalan.

*Beauty, far from stupidity.

Lewat Umur 24

January 1, 2009

Kalau ditanya, ‘umur berapa hidup seorang perempuan mulai mengalami komplikasi?’, saya akan menjawab ‘24 tahun’. Karena, ya, ini berhubungan dengan pernikahan yang katanya berlaku untuk seumur hidup. Seorang ayah, ibu, dan mulut-mulut lain akan dengan tidak segan mempertanyakan perihal waktu acara pernikahan untuk orang yang sudah memiliki pacar. Atau mulai mengancam bila pilihan anaknya dianggap bukan yang terbaik. Tidak sedikit juga yang menekan dengan perintah ‘mencari pacar’ untuk anaknya yang terlihat belum memiliki pacar. Upaya menjodohkan atau mengawinkan juga akan dilakukan bila mereka tidak melihat inisiatif dari sang anak untuk mencari calon pasangan hidup.

Aneh. Menikah yang katanya sangat penting dan berbahaya, malah berubah menjadi pemaksaan yang segera mungkin harus dilaksanakan. Padahal belum tentu semua orang sanggup untuk menjadi suami/istri untuk pasangannya, atau untuk menjadi ayah/ibu untuk anak-anaknya. Perlu tekad, kesiapan secara mental, dan kemampuan riil untuk seseorang dapat membangun keluarga.

Takut akan seks bebas yang dilakukan anaknya sebelum menikah? Mengapa harus takut bila seks yang dilakukan aman dan tidak menimbulkan korban jiwa?? Bukankah yang perlu diajarkan adalah cara melakukan seks dengan aman? Atau bila harus ekstrim, pikirkanlah solusi lain dengan menjahit vagina anaknya seperti orang Nigeria, misalnya. Toh solusi itu lebih dekat dengan titik aman dibandingkan memaksa seorang individu yang tidak memiliki kapabilitas untuk menikah?

Kuatir anaknya tidak menghasilkan keturunan bila tidak menikah? Bila yang diberatkan adalah anak, usahakanlah anak! Bukan pernikahan!! Cari ‘bibit unggul’, periksa kesehatannya, perintahkan mereka intercourse agar sperma dapat berpindah dan bertemu ovum, sehingga janin bisa terbentuk. Itu cara murah. Bagi keluarga yang logikanya kalah dengan aturan agama, pilihlah bayi tabung. Terjamin kualitasnya, kebersihan dan kesehatannya, dan tidak dipandang hina oleh lingkungan sekitar. Mahal? Ya resiko. Toh punya anak memang seharusnya adalah keputusan orang-orang yang sanggup mencari uang saja, bukan? Orang miskin yang bahkan mengalami kesulitan memasukkan makanan ke dalam mulutnya atau orang kaya yang berprioritas pada Prada dibanding keluarga, TIDAK BERHAK untuk memiliki anak. Orang-orang nekad seperti ini yang merusak generasi bangsa dan justru menimbulkan korban jiwa.

Tidak mau anaknya dicap ‘perawan tua’? Menurut saya, perawan tua jauh lebih terhormat dibanding manusia-manusia lain yang tidak bertanggungjawab. Nekad mengambil keputusan tapi belum mampu berpikir, apalagi bertanggungjawab dengan keputusan itu, jauh lebih menyedihkan dari sekedar perawan tua. Apa yang salah bila seseorang lebih nyaman hidup dengan dirinya sendiri? Mengapa banyak orangtua justru mengganggu kenyamanan hidup anaknya dengan memberikan beban yang tidak sanggup dipikulnya? Wajari ketakutan anak mungkin lebih bijak. Biarkan ia menjadi ‘pengecut’ dengan satu alasan, tahu apa yang menjadi keterbatasannya.

Malu bila anaknya terus berpindah-pindah pasangan? Positifnya, paling tidak yang dirugikan adalah dirinya sendiri. Tidak ada anak yang berduka karena ketidaksiapan orangtuanya, atau ketidakmampuan orang yang sok mampu memiliki anak. Bila terlalu malu, pindah saja ke kota atau negara lain. Mencari kehormatan di negara lain toh bukan dosa. Sambil menunggu anaknya bosan dengan pola hidup berpindah-pindahnya itu.. Sekali lagi, yang penting TIDAK MENIMBULKAN KORBAN JIWA. Dan lagi, apa pernikahan dapat menjamin seseorang tidak berpindah-pindah pasangan?? Berapa banyak orang yang bersih dari perselingkuhan dan tidak pernah merasakan sakit hatinya? Come on, answer me!!

Melarang anaknya atau membicarakan orang lain karena menikah dengan pilihannya? Okay, here’s the point, menikah bukan hal yang mudah. Permasalahan akan dan pasti timbul di kemudian hari. Tidak jarang juga penyesalan menghancurkan segalanya. Bila kesedihan dan kehancuran itu timbul karena ‘usul’ dari orang lain, kebayangkah penyesalannya?? Tapi bila derita yang sama dialami karena pilihan sendiri, itulah pelajaran. Paling tidak akibat dari kesalahan diri sendiri, bukan orang tua atau tetangga, atau keluarga besar. Lagipula, saat masalah muncul di kemudian hari, apakah mereka-mereka yang dulu ikut mengatur, akan datang membantu??? It’s not gonna be like that, for sure!

Jadi mungkin ada baiknya (selain kedua orangtua) bila mulai stop menyuruh, mendesak, mengatur, atau bahkan bertanya tentang pernikahan anak orang lain. Everybody has a different way, and being married is NOT THE ONLY WAY to live. So, here is my suggestion, why don’t you go take care your own ass and shut ur mouth up?

‘Selamat Jalan Pak Harto’, Kata Metro TV

January 28, 2008

Namanya Soeharto. Bapak Pembangunan itu dipanggil Bapak Soeharto atau Presiden Soeharto. Beberapa masyarakat bahkan ada yang memanggilnya Bapak Besar karena rasa kagumnya. Luar biasa memang untuk seorang manusia biasa berlatar belakang anak petani yang tidak sanggup sekolah, untuk memimpin sebuah bangsa besar selama 32 tahun. Tidak hanya memimpin seperti presiden saat ini, Bapak Soeharto berhasil menaruh bangsa ini pada kondisi stabil. Datar. Bahkan permukaannya naik sedikit-sedikit. Tapi tidak miring. Semua tetap datar. Gerakannya halus perlahan, tidak mengagetkan. Kestabilan membuat masyarakat merasa aman…dan kagum. Apa saja yang beliau pakai untuk mengganjal agar permukaannya tetap stabil? Entah. Ada yang bilang korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Beliau berduka. Istri tercintanya meninggal pada tahun 1996. Ibu Tien meninggalkan negaranya. Ya benar, ia kan memang seorang ibu negara. Bapak Soeharto menangis. Katanya beliau kehilangan teman diskusi, pelengkap seorang Soeharto. Segala gerak-geriknya tidak selalu sempurna, dan Ibu Tien selalu mampu mengisi ruang-ruang kosongnya. Ucapannya tidak selalu terdengar, dan Ibu Tien mampu mengeraskan suaranya disaat-saat suaminya melemah. Senyum beliau ada kalanya harus mengeras, dan saat itu kamera akan selalu menangkap senyum di sebelah beliau. Di bibir istri tercintanya. Hanya itukah yang dikerjakan seorang ibu negara? Entah. Ada yang bilang Pak Harto ambruk karena ditinggal ibu negara.

Beliau lengser. Katanya mengundurkan diri. Akhirnya celah itu dibuka paksa oleh hawa yang konon bernama reformasi. Karena memang sudah waktunya bau amis tercium, atau nafsu penguasa lain yang bergerak tergesa-gesa tanpa perhitungan? Tidak jelas. Hanya Tuhan yang tau. Yang jelas, permukaan itu tidak lagi stabil. Si KKN digrebek oleh kawannya yang bernama KKN dan bersenjatakan KKN. Korupsi, kolusi, dan nepotisme ditambal sulam. Bapak Soeharto akhirnya menyerah. Entah tidak sanggup lagi atau taat pada skenario yang memang dibuatnya. Benar atau salah, bukan itu yang penting. Toh skenario itu sudah dapat mengabulkan hampir semuanya. Lalu, apakah skenario jeniusnya sudah tamat saat itu? Entah. Ada yang bilang adegan terbaiknya adalah saat di panggung G30S/PKI.

Beliau sakit. Semua terbongkar. Ternyata kondisi ’stabil’ sebuah bangsa tidak cukup dibayar oleh tujuh turunan generasi tersebut. Bagian mana yang mahal? Jembatan? Hotel? Atau pabrik mobil sang anak tercinta? Lalu, bagaimana pula dengan skenario sejarah yang dilegalisirnya sendiri dalam buku pelajaran seluruh generasi Indonesia? Percuma menerka bila jawabannya disembunyikan malaikat. Presiden-presiden selanjutnya ternyata belum sanggup menyamai posisi beliau. Entah karena tiba-tiba terangkat sehingga perencanaan belum sempurna, atau hanya sekedar ngabisin penasaran saja pingin duduk di kursi beliau dan sesekali membelikan mobil mewah untuk keluarga tercinta… Pak Harto dituntut karena perbuatannya. Benarkah ia sakit ketika dipanggil ke pengadilan? Entah. Ada yang bilang bangsa ini memang simpatik, itu mengapa SBY menang di pemilu terakhir.

Beliau meninggal. Masyarakat bingung. Sebagian berpendapat agar kasusnya ditutup karena memaafkan adalah perintah Tuhan. Namun sebagian lagi berkata keadilan harus ditegakkan. Pemerintah juga mungkin bingung harus bergantung nasib pada pihak yang kuat namun sedikit, atau lemah tapi bukan main banyaknya. Opini politik menjadi simpang siur. Kasus pidana sempat ditutup karena pengadilan Indonesia menganggap tubuh renta itu hanya layak dijatuhi tuntutan perdata. Sudah mau mati katanya. Lalu dimanakah anaknya yang sudah dibikinkan pabrik mobil itu? Atau anaknya yang diberi uang saku melalui pembangunan jalan-jalan dan jembatan-jembatan? Atau cucunya yang turut menyesap air susu emas hasil tabungan seluruh masyarakat melalui jalan tol dan ijin kaki lima? Dan kemanakah para tangan kanannya yang berseragam kopri atau coklat pupus di kantor-kantor tempat memutar-balikkan fakta? Pak Harto telah meninggal. Tapi benarkah menutup kasusnya merupakan tindakan paling manusiawi untuk jasa beliau dan keluarganya? Saya bilang tidak cukup manusiawi bila tujuh turunan Pak harto hanya menikmati manisnya KKN. Benarkah pendapat saya? Entah. Ada yang bilang saya hanya perempuan sok tau.

Hanya Tentang Celana (?)

May 26, 2007

Pada awal penciptaan dunia, manusia dalam kondisi telanjang. Dengan berbagai pertimbangan, Tuhan memberikan celana panjang kepada manusia. Setelah itu, manusia pergi ke tempat masing-masing untuk memenuhi bumi.

Kondisi geografis ternyata mempengaruhi keberadaan manusia. Perbedaan iklim dan cuaca, pola hidup, hingga jenis makanan yang dikonsumsi, ternyata melahirkan keragaman manusia. Untuk dapat bertahan hidup dengan memperoleh energi, orang yang menempati wilayah barat ternyata lebih banyak mengkonsumsi protein hewani karena suhu yang lebih rendah. Sedangkan yang berada di bagian timur, memiliki pola hidup yang jauh berbeda. Perbedaan wilayah telah membentuk manusia yang memiliki karakter dan cara bertahan hidup masing-masing.

Kembali tentang celana panjang, ternyata generasi di bagian barat yang mengalami perubahan fisik, mulai merasa tidak nyaman. Celana yang diberikan menjadi terlalu pendek dan sempit. Dengan insting dan akal yang dibekali, manusia mampu untuk beradaptasi. Celana panjang mulai direparasi sedikit demi sedikit. Celana yang kependekan akhirnya dipotong menjadi celana pendek. Sedangkan yang di wilayah timur, yang postur tubuhnya lebih kecil, tidak nyaman dengan celana yang terlalu panjang dan besar. Generasi yang ada akhirnya memutuskan untuk memotong celananya agar panjangnya pas, sesuai dengan tinggi tubuh mereka.

Tuhan melihat hal tersebut cukup baik. Karena itu, Ia memberikan kepercayaan kepada manusia untuk terus melanjutkan keturunan sampai memenuhi bumi. Jumlah manusia semakin banyak. Hingga lama-kelamaan, manusia dari wilayah barat mulai bertemu dengan manusia dari wilayah timur. Akhirnya mereka mulai hidup berdampingan.

Proses percampuran ini tidak berjalan begitu mulus. Perbedaan yang ada mulai menjadi masalah. Celana panjang merasa dirinya lebih sempurna karena dapat menutupi seluruh kaki. Sedangkan celana pendek merasa lebih benar karena dapat memberi kenyamanan dalam beraktivitas. Pembenaran diri mulai dilakukan dengan serius oleh beberapa pihak yang merasa terancam. Penelusuran sejarah diselidiki untuk mengetahui kebenaran. Sejarah yang muncul ternyata tidak membuahkan solusi karena menghasilkan cerita dalam berbagai versi, sesuai dengan kondisi latar belakang yang memang berbeda.

Perubahan yang semata-mata dilakukan untuk beradaptasi dan mengusahakan kenyamanan agar dapat bertahan hidup, ternyata menjadi masalah besar yang tidak terselesaikan. Tuhan memberikan celana untuk memberi kemudahan. Tapi sayangnya, manusia lebih suka mengisi hidup dengan menyusahkan diri sendiri. Lagi-lagi… Manusia telah memilih.

 

*) Bukannya lebih baik celana itu bekerjasama untuk memudahkan manusia dalam 1001 aktivitasnya di masa depan, daripada berusaha meributkan masa lalu yang kebenarannya cuma Tuhan dan mayat-mayat yang tau..??

Entahlah. Toh manusia memang berkuasa untuk memilih.

 
…………….

Poor Kartini…

April 21, 2007

Hampir semua acara TV Nasional hari ini (kemarin maksudnya) turut memperingati Hari Raya Kartini. Termasuk acara tentang gosip selebriti yang bicara soal perempuan, hak, perjuangan, dan pengorbanannya.

Salah satunya menyorot Tamara Blesinzky (gimana si nulisnya??) dalam ‘perjuangan’nya bertemu anaknya, Rassya. Sebuah pernyataan mengiringi pemberitaan tentang hal tersebut,

"Mungkin Tamara mewakili perempuan Indonesia yang belum merasakan perjuangan Kartini untuk mendapatkan haknya dalam mencurahkan kasih sayang untuk anaknya."

What??!

Perjuangan seorang Kartini yang salah satunya bicara soal persamaan gender disamakan dengan nasib seorang seleb yang tidak menduga resikonya ketika mengambil keputusan hidup??!!! Herannya komentar seperti ini diucapkan hampir seluruh acara gosip seharian ini. Kesepakatan bersama yang diakui oleh hampir seluruh penduduk Indonesia (gosip bo! Siapa yang ga ngikutin beritanya??) tentang perjuangan Kartini ternyata seperti itu. Pemerintahan Orde Baru ternyata benar-benar berhasil memanipulasi sebuah perjuangan seorang pahlawan, yang kebetulan perempuan. Perjuangan yang bertujuan mengubah mental ‘budak’ manusia menjadi seorang pemimpin yang mengetahui dengan jelas posisi, hak, dan kewajibannya, ternyata hanya diartikan sebagai perjuangan perempuan untuk keluar dari dapur dan masuk ke sebuah lembaga pendidikan. (yang kemudian menghasilkan sebuah kenyataan menyedihkan yang menjadikan perempuan tidak mau masuk dapur dan melayani keluarga dengan alasan ‘emansipasi’. Edan!!) Herannya lagi, banyak perempuan Indonesia justru setuju dengan ‘perjuangan keluar dapur’ ini.

Perjuangan Kartini jadi mubazir bila melihat hasil berupa perempuan yang berani memberontak untuk menuntut hak-nya. Salah satu contohnya adalah seorang ibu yang merasa dicurangi karena tidak dapat bertemu dan ‘mencurahkan kasih sayang’ untuk anaknya. Setelah lupa akan kewajiban, seorang ibu kaya dapat membeli hak-nya melalui pengacara ternama. Ketika tujuannya tercapai, dengan bangga ia menyamai diri dengan Kartini yang berhasil memperjuangkan hak-nya.

Akhirnya terjawab sudah mengapa Indonesia tidak pernah mengalami kebebasan gender. Emansipasi pun hanya sebuah istilah asing yang entah apa artinya, karena memang terapannya tidak pernah ditemukan di Indonesia. Salah satu arti sederhana dari emansipasi adalah seimbangnya hak dan kewajiban, bukan berusaha sama dengan laki-laki. (Dari bentuk fisik dan kondisi biologis lain yang berbeda, masa perempuan pintar tidak bisa membedakan perbedaan apa yang harus ada??)

Siapa lagi yang mampu menindas makhluk terkuat (perempuan) di muka bumi ini selain dirinya sendiri??

So…just enjoy the shit!!

2006 © Niczide - Monica Anastasia | This weblog using : Blogsome™ and Wordpress™

All Right Reserved. Design by reeworkz | contact reeworkz

Please, for you convinience use Firefox 2.0™ | XHTML valid | CSS valid