Choose. When It Still A Choice.

March 21, 2007

Malam hari, di sebuah café kecil, dua orang teman semasa SMU bertemu. Setelah makan malam diiringi basa-basi untuk meng-update kabar terakhir dari kedua belah pihak, mulailah obrolan sebenarnya. Ditemani dua gelas red wine tahun 1999, lunturlah kekakuan yang ditutupi dari tadi.

“Rokok?”
“No, thanks.”
“Don’t tell me you’re not smoking.”
“I’m not. Is that weird?”
“Why? Surprised me. Dengan alasan kuat?.”
“Hahaha. Gw cuma mau anak gw sehat. Ovum gw prima (what?? :p), janin gw kuat. That’s all.”
“What??? …What are you talking about? Virginity, pregnancy or philosophy?”
“Hey, relax dude. Hahaha. I’m talking about a choice. Ini udah pilihan gw. Gw pengen punya anak sehat. Kok aneh si?”
“Kalo gitu mah, gw juga lah. Semua orang juga gitu kali. Tapi itu kan ya urusan ntar. Masih ada unsur ketuhanan disitu. Kalo suami lo yang kenapa-kenapa, ya caur juga anak lo. Ga pasti juga lah..”
“Hey, jangan ngomong soal Tuhan. Tuhan suruh manusia memilih. Buktinya destiny orang beda-beda. Itu karena tiap orang menyikapi hidupnya berbeda satu sama lain.”
“But..You are 22 years old. Masih panjang……”

Obrolan ini memang berlangsung masih lama. Tapi cukup sampai disini, sudah ada persepsi yang menarik. Pilihan yang ada di masa depan itu sudah dipilih jauh hari di masa lalu.

Seseorang telah memilih jantung tertutup lemak sebagai cara matinya saat menolak makan sayur waktu SMP
Orang tua telah memilih anaknya menjadi koruptor, pada saat tidak menindaktegas anaknya yang kedapatan memakai sedikit dari uang sekolahnya.
Penderita kanker paru-paru telah memilih penyakit itu sejak memutuskan untuk candu terhadap rokok waktu kelas 6 SD.
Seorang sukses yang berumur 28 tahun sudah memilih untuk dikubur 7 tahun mendatang, waktu mentraktir teman-temannya rokok, ganja, alkohol, dan beberapa jenis ‘nikmat’ lain pada saat gaji pertama.

Memilih bukan aktivitas yang bisa dilakukan pada saat yang diinginkan. Memilih hanya bisa dilakukan saat semua masih berupa pilihan. Kalau semua kalah oleh takdir, untuk apa Tuhan menaruh otak dan menciptakan sebuah sistem yang sangat rumit dalam hidup manusia??

Pilih, waktu masih berupa pilihan.
Dan nikmati (semoga), saat sudah menjadi jawaban.
Strategy.

A ga ma ??

January 16, 2007

Pada awalnya, agama dibuat untuk kepentingan politik. Mulai dari ekspansi Gerakan 3G (Gospel, Gold, and Glory) sampai Nabi Muhammad yang berpoligami agar agamanya dapat diterima oleh suku bangsa lain dengan mudah. Kalau dari sudut pandang teologi, agama ada untuk meminimalisir kekacauan (chaos). Tapi sekarang kenyataannya, agama jadi penyebab utama kekacauan masyarakat.

Iya betul, di dalam agama mengandung cara mencapai Tuhan (cara beribadah, dll). Tapi tidak cuma itu. Dalam agama pun mengandung politik-politik yang mengkotak-kotakkan manusia ke dalam kelompok satu dengan yang lain. Lama-lama kok agama tidak lagi bicara tentang Tuhan ya? Malah ribut dengan aturan-aturan dan ornamen ketuhanan?? Kenyataan sekarang, manusia malah mempertuhan agama.
Apa betul agama masih mewakili Tuhannya?

Kalau ditanya, kenapa semua orang dengan sukarela beragama? Benarkah untuk berbakti kepada Tuhannya? Atau karena takut kepada kecaman lingkungan dan keluarga? Atau karena agama merupakan satu-satunya benda gratis yang bisa diperoleh manusia, walaupun pada masa-masa krisis? (Bahkan pada waktu tidak semua orang bisa mendapat nasi atau air, agama lebih mudah didapat)

Kalau semua orang memiliki Tuhan, rasanya kok agama jadi sesuatu yang tidak perlu ya?

 
(Comment please) 

Perbedaan Tanpa Provokasi

January 8, 2007

Sebuah percakapan antar dua orang berbeda agama, ras, usia, pendidikan, dan status sosial…
Tidak dengan kesombongan atau ambisi, merasa diri benar pun tidak.
Hanya tersisa keterbukaan pikiran dan kerendahan hati.

“Kerajaan Allah ada dalam diri kita dan sekitar kita…kerajaan Allah bukan bangunan dari kayu maupun batu…

“…Dan agama untuk pengakuan diri terhadap diri sendiri, bukan mengatasnamakan Tuhan untuk kepentingan pribadi kan…”

“Kita hidup lebih dulu dari pada beragama…kenalilah Hidupmu…jalanilah Agamamu dengan sepenuh hati…”

“Agama itu buatan manusia yang pada awalnya untuk kepentingan politik. Sampai sekarang, aturan dan image tak tertulis tentang setiap agama masih jadi kebanggaan. Agama bukan lagi maunya Tuhan..”

“Benar…agama itu tak layaknya suatu organisasi…seperti kelompok politik…dan organisasi berkomoditas dari umatnya…kalau setiap manusia tahu letak kerajaan Allah sebenarnya dan menyapanya dan memasukinya setiap saat dimanapun dia berada…niscaya…agama itu tak ada gunanya…”

“…Dan habislah segala perpecahan manusia.”

“Amin…”

Sayangnya, percakapan ini tidak dilakukan oleh dua pemuka agama yang berbeda. Percakapan ini hanya dilakukan oleh dua orang iklan (Creative Director dan Junior Art Director) yang sama-sama merasa diri bodoh.

Takdir. (Is that it?)

January 3, 2007

Berita pagi ini masih diwarnai dengan tragedi jatuhnya pesawat Adam Air di Sulawesi. Pesawat satu-satunya yang branding colournya berwarna orange ini diduga jatuh karena kondisi pesawat yang sudah tidak layak terbang. What a reason!

Diberitakan juga para keluarga yang sangat terpukul karena kehilangan anggota keluarganya. Ada keluarga salah satu pramugari yang tidak dapat menerima kabar tersebut. Sebut saja si A. Kabarnya si A ini seharusnya sedang libur. Tapi karena temannya sedang sakit, ia diminta menggantikan tugasnya hari itu. Tidak disangka, A yang sehat justru kehilangan nyawanya dalam kecelakaan pesawat. Siapa yang menyangka kalau sakit ternyata membawa kebaikan??

Ketidaktahuan manusia akan masa depannya terkadang membuat manusia tergesa-gesa. Kalau sudah kejadian, cuma satu kalimat yang akhirnya keluar,
“Namanya juga takdir, siapa yang tau?”
Mungkin pernyataan seperti ini ada benarnya. Manusia mengakui ada hal-hal yang memang diluar kekuasaannya sebagai manusia yang hanya bisa melihat masa sekarang. Mungkin karena keterbatasan itu, manusia sengaja diciptakan dengan tingkat kompleksitas yang sangat tinggi untuk menghadapi hidup yang misterius dalam penglihatan mata.

Memori yang ada untuk mengingat kejadian masa lalu. Elemen memori ini membuatkan “Do and Don’t List” di masa depan. Mata diberikan untuk melihat kenyataan yang ada. Memperhatikan kondisi sekeliling akan menggerakan kaki ke jalan yang paling aman untuk langkah selanjutnya. Insting dan kemampuan berpikir membantu manusia menetapkan strategi di masa depan. Hence in my opinion, all of those thing given for future preparation. Human being is not a doll. Penciptaan manusia dengan struktur muktahir, menjadikan manusia cukup mampu diberi kebebasan. Kebebasan bertindak (yang selalu dituntut oleh semua orang) dan kebebasan berpikir (yang sayangnya, jarang dipergunakan) menjadi fasilitas bawaan yang dimiliki manusia.
Ketidakseimbangan ini (bebas bertindak tanpa berpikir) yang akhirnya melahirkan bencana-bencana, yang lebih dikenal di masyarakat dengan istilah : takdir.

Birthday…?

December 24, 2006

Sorry,
For always asking everything I want
On Your birthday party

Sorry,
For always praying about blessing for my own self
On Your birthday party

Sorry,
For always leaving You
After Your birthday party

Sorry,
For always let You cleaning our mess alone
After Your birthday party

Sorry,
For never ask You what You really want
As Your birthday present

Sorry…
For saying ‘Merry Christmas’ to everyone
and never say ‘Happy Birthday’ to You
On Your birthday party

Happy Birthday, Jesus…

And sorry…
For just say sorry…

2006 © Niczide - Monica Anastasia | This weblog using : Blogsome™ and Wordpress™

All Right Reserved. Design by reeworkz | contact reeworkz

Please, for you convinience use Firefox 2.0™ | XHTML valid | CSS valid